Suatu hari Si Fulan (seorang pembaca pikiran)  bermain ke rumah sahabatnya. Sahabatnya berkata “Hai Fulan, kalau kau pembaca pikiran, angka berapakah yang ada dalam pikiranku?” Si Fulan menjawab, isi pikiranmu adalah “ingin menguji kemampuan membaca pikiranku
Membaca pikiran bukan membaca apa yang dihapalkan orang lain, tetapi membaca apa yang dipikirkan orang lain.
Sahabat Si Fulan menganggap bahwa membaca pikiran adalah membaca angka yang telah dihafalkan dalam pikirannya.

Banyak orang beranggapan, bahwa jika bisa membaca pikiran orang lain, maka
  • Bisa mengetahui jika orang lain sedang berbohong, atau jujur terhadap dirinya.
  • Bisa mengetahui sesuatu yang akan diperbuat orang lain.
  • Bisa menerka angka dalam pikiran orang lain.
  • Bisa mengetahui rahasia orang lain.
Hal-hal di atas adalah anggapan manusia pada umumnya, jika seseorang memiliki kemampuan membaca pikiran, padahal anggapan di atas adalah keliru.
Dalam kenyataannya tidak seorang pun memiliki kemampuan tersebut, maka jadilah “Kemampuan Membaca Pikiran” diragukan keberadaannya.
Ilmu membaca pikiran tidak seperti anggapan di atas, karena karakteristik pikiran manusia adalah sebagai berikut,
  • Isi pikiran tidak bisa dibatasi.
  • Isi pikiran berubah setiap detik.
  • Isi pikiran bisa saja diucapkan, bisa saja tidak.
  • Isi pikiran bisa saja dilakukan, bisa saja tidak.
  • Isi pikiran bisa direkayasa.
  • Isi pikiran merupakan bagian dari pikiran bawah sadar (tidak disadari), kecuali bila seseorang selalu melatih kesadaran isi pikiran.
Berdasarkan asumsi di atas maka metode penelitian ilmiah (mainstream) yang saat ini digunakan tentu saja tidak akan mampu mengungkap rahasia ilmu membaca pikiran.
Metode penelitian ilmiah yang saat ini digunakan berlandaskan prinsip faktual (dapat dibuktikan dan terjangkau panca indra), terukur (measurable), dan objektif (tidak terikat nilai moral dan agama).
Tentu saja metode penelitian seperti ini tidak akan bisa digunakan untuk mengungkap ilmu membaca pikiran, karena pikiran manusia tidak faktual, pikiran manusia tidak bisa dibatasi  perubahannya, maupun jangkauannya (daya pikir), untuk menguasai ilmu membaca pikiran seseorang harus mengikatkan dirinya pada nilai moral dan agama.
Pentingnya memahami cara kerja pikiran manusia, agar manusia terhindar dari penyakit pikiran diantaranya stress, depresi, cemas, takut, lebih jauh lagi adalah gangguan jiwa, serta agar manusia mampu mengoptimalkan pikirannya untuk bekal menjalani kehidupannya.
Simaklah cerita di bawah ini ini!
Si Fulan sedang belajar membaca pikiran, sebagai peneliti muda tentu saja linglung dan bingung, apalagi referensinya nyaris tidak ada, kalaupun ada ternyata referensi tersebut konsep, prinsip, dan asumsinya salah.
Si Fulan berusaha menyadari isi hati dan pikirannya terus menerus (mempelajari alam bawah sadar), untuk dapat memahami ilmu membaca pikiran, Si Fulan mempelajarinya selama setahun.
Ia mulai menganalisa isi pikirannya (pikiran bawah sadarnya), pada saat-saat tertentu, ketika berinteraksi dengan orang lain, seringkali Si Fulan mengalami sesuatu yang ada dalam pikiran Si Fulan, diucapkan oleh orang lain, atau dilakukan oleh orang lain. Karena dilakukan terus menerus sampailah kepada kesimpulan bahwa dirinya mampu membaca pikiran orang lain.
Menyenangkan sekali memiliki kemampuan membaca pikiran orang lain, apalagi jika dirinya dikelilingi oleh orang-orang yang menyukai dirinya. Maklum saja dia baru menguasai ilmu membaca pikiran, dan ilmu tersebut baru satu-satunya yang ia miliki.
Hidup berlanjut, Si Fulan sebagai pembaca pikiran, dalam kehidupan tidak semua orang menyenangi Si Fulan, suatu malam Si Fulan membaca pikiran seseorang yang ingin membunuhnya, Si Fulan cemas, takut, galau, gelisah, ia mengunci pintu, menutup jendela dengan kayu, menyiapkan senjata tajam dll. Ia melakukan hal seperti itu selama berminggu-minggu, hidupnya stress, kacau balau.
Demikian yang dilakukan Si Fulan, kebodohan yang ia lakukan disebabkan ia hanya menguasai ilmu membaca pikiran. ”Ternyata membaca pikiran orang lain tidak menyenangkan”.
Orang-orang yang mengaku dirinya menguasai ilmu membaca pikiran saja adalah orang bodoh. Membaca pikiran orang lain tidak menyenangkan, karena pikiran manusia pada umumnya berkecenderungan buruk terhadap orang lain. Orang yang bisa membaca pikiran orang lain bisa terkena depresi, cemas, bahkan kemampuan membaca pikiran orang lain bisa menjadi stimulus gangguan kejiwaan.
Kemampuan membaca pikiran orang lain adalah kemampuan sia-sia jika tidak diiringi dengan kemampuan telepati satu arah.
Sesungguhnya ketika Si Fulan membaca pikiran seseorang yang akan membunuh dirinya, seharusnya Si Fulan tidak khawatir, karena dengan telepati satu arah secara kontinyu, Si Fulan dapat membalikkan hati dan pikiran orang lain yang ingin membunuhnya, menjadi ingin melindunginya.
Reaksi:

Poskan Komentar

 
Top